Tag Archive | facebook

Bela Negara Cara Baru

Oleh: Elnino M. Hussein Mohi dan Tomy Ishak

(Tulisan ini dimuat dalam MAJELIS, Edisi 9, September 2011)

 

“Akalmu adalah senjatamu, hatimu adalah kamu”

Ketika konflik perbatasan dengan Malaysia dibahas oleh berbagai media di negeri ini, ribuan orang menyatakan siap dikirim untuk berperang melawan jiran itu. Sementara situs-situs online resmi pemerintahan Malaysia ketika itu diserang oleh para hackers yang meninggalkan pesan pro-Indonesia di layar depan laman-laman tersebut.

Ketika tim nasional sepakbola Indonesia bertanding, hampir bisa dipastikan rakyat dari Sabang hingga Merauke berharap kemenangan. Bisa dipastikan pula reaksi keras seluruh elemen bangsa ini akan muncul bila simbol-simbol negara—Bendera Merah-Putih, Garuda Pancasila dan lagu kebangsaan Indonesia Raya—dihinakan oleh orang atau bangsa lain.

Kecintaan kita terhadap bangsa ini sangat mendarah-daging. Sudah diyakini sebagai bangsa dengan elemen trias-politika yang sangat korup, sudah diopinikan sebagai negara yang carut-marut, sudah dicitrakan sebagai republik yang gagal, ntoh tetap saja kita mencintai Indonesia—tanah tumpah darah. Hanya saja, ekspresi kecintaan terhadap negara ini yang berbeda-beda, umumnya ditunjukkan dengan kesiapan berkorban nyawa demi Ibu Pertiwi.

Pertanyaan yang muncul adalah; Apakah an sich sikap “rela berkorban nyawa demi bangsa” dapat menjamin pencapaian tujuan dibentuknya Negara Republik Indonesia seperti yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar? Apakah sikap itu hanya dibutuhkan ketika kedaulatan Indonesia terancam oleh pihak luar? Dan, apakah sikap itu hanya dibutuhkan dari rakyat, dan tak perlu dari elit? Di level praktek kenegaraan, apakah proses perumusan hukum—UU, PP, dll—dan penyusunan APBN, sebagai misal, diwarnai oleh sikap “rela berkorban demi bangsa” tersebut?

KEKUATAN IDEAS

Setidaknya ada lima aspek yang sangat menentukan peradaban maupun kebudayaan (culture) sebuah bangsa; moral, ilmu pengetahuan (sains), teknologi, seni (arts) dan ekonomi. Agaknya negara sejahtera-adil-makmur yang dimaksud oleh para pendiri NRI adalah negara yang kuat dalam kelima aspek tersebut.

Ironisnya hari ini lebih banyak di antara kita yang mengukur kesejahteraan hanya dengan timbangan ekonomi; uang dan barang. Dianggap sejahtera bila warga dan masyarakat memiliki uang dan barang, sementara aspek immaterial seperti moral, seni, dan perkembangan sains dan teknologi dimengerti sebagai akibat dari adanya uang dan barang. Pikiran yang demikian itu sungguh terbalik. Bukankah sejarah dunia telah menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi adalah akibat dari penguasaan sains dan teknologi?

Ditambah lagi, bela negara ‘dibaca’ dalam konteks pasif dan bersifat fisik; bahwa kita wajib siap sewaktu-waktu mengangkat senjata dan mati demi negara apabila kedaulatan NRI diancam dari dalam atau dari luar. Pemahaman kita terhadap ancaman kedaulatan pun masih bersifat fisik; pencaplokan lahan atau wilayah laut oleh negara tetangga, masuknya militer negara lain ke Indonesia tanpa permisi, pernyataan perang terhadap Indonesia, dan semacamnya. Suatu pemaknaan yang sungguh kuno dan sempit, dan tentu saja tak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

Tidakkah kita sadari betapa hari ini penguasaan atas suatu bangsa di atas dunia sedang berubah bentuk? Kedaulatan negara tidak akan lagi dilumpuhkan dengan kekuatan fisik-militer atau kekuatan ekonomi, melainkan oleh kekuatan ideas. Dan ketika ideas suatu negara dikuasai, maka hampir dipastikan secara ekonomi dan fisik-militer negara itu pun dikuasai.

Kejatuhan rejim-rejim di Arab belakangan ini, sebagai misal, adalah sebagai bukti empirik betapa dahsyatnya kekuatan ideas. Terlepas dari zolim atau tidaknya rejim-rejim itu, kekuatan militer di Tunisia, Mesir, Libya, dan kini Yaman tak sanggup membendung arus ideas yang merasuk di pikiran rakyatnya sehingga melakukan pemberontakan tanpa senjata.

Boleh saja kita menaruh curiga bahwa ideas yang menjatuhkan rejim penguasa di kawasan Arab itu berasal dari luar negara-negara tersebut. Tetapi boleh jadi juga, ideas itu dilahirkan oleh rakyatnya sendiri yang mencintai negaranya dan membenci para penguasa yang dianggapnya “berkhianat terhadap negara dan rakyat”—seperti yang terjadi di Indonesia, 1998.

SAINS & TEKNOLOGI

Runtuhnya Tembok Berlin tidak saja mengakhiri pertarungan ideologis kanan (Amerika Serikat) dan kiri (Uni Soviet), melainkan juga mewujud menjadi pintu masuk kesetaraan, yang oleh Thomas L. Friedman (2003) dipandang sebagai awal proses pendataran dunia. Sementara world wide web (www) membuat dunia terkoneksi menjadi satu kesatuan, semacam global village.

Siapapun di dunia ini dapat berinteraksi dan melakukan komunikasi intensif real time di mana saja, bahkan mampu menembus batas negara, menembus sekat budaya, menembus dinding ideologi—yang dulu menimbulkan pertentangan dan menyisakan nestapa. Semua institusi dan nilai (values) tunduk dan patuh dalam konsepsi ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi.

Perkembangan sains dan teknologi telah menjadi unsur pengubah dunia yang menentukan. Majunya dunia gagasan dan turunan-turunannya menguat menjadi faktor determinan yang berpengaruh. Ini menciptakan realitas baru, di mana munculnya kelompok muda yang makin tidak tergantung, kuat, dan berpengaruh. Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya, sebagai misal, berhasil ‘memfasilitasi’—dengan sangat cepat—merebaknya ideas yang melatari gerakan perlawanan di Timur Tengah secara masif dan terstruktur. Sekali lagi, dia dimulai dari orang-orang muda yang menguasai sains dan teknologi.

BELA NEGARA DI TAHUN 2020-AN

Fakta-fakta di atas mewajibkan kita semua untuk mengembangkan doktrin “bela negara” bukan lagi sebagai suatu yang pasif dan bersifat gerakan fisik. Bela Negara tak zamannya lagi dianggap sekadar sebagai kesiapan reaktif segenap rakyat bila Negara Republik Indonesia terancam secara fisik dari dalam maupun dari luar. Tetapi Bela Negara harus dimaknai sebagai suatu usaha aktif dan dilakoni secara terus menerus. Bela Negara juga mesti ditujukan untuk mengatasi ancaman non-fisik—yang tentu saja lebih dahsyat kekuatannya—baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Maka, konsepsi Bela Negara harus kita jewantahkan secara kontinu dengan memperkuat ideas yang menjadi sendi-sendi kehidupan bangsa ini, yaitu nilai-nilai ke-Indonesia-an yang melekat erat pada tatanan moral, kemandirian sains, teknologi, seni dan ekonomi—nilai-nilai yang telah dibahasakan dengan sangat elegan oleh para pendiri negara ini dalam Pancasila dan UUD NRI 1945. Mungkin Bela Negara yang demikian itulah yang dimaksud oleh Juwono Sudarsono (2005) sebagai Pertahanan Nirmiliter ketika ‘orang sipil’ itu menjadi Menteri Pertahanan RI.

Demi kelangsungan bangsa ini selama-lamanya, usaha kita dalam periode 2010-2020 inilah yang akan sangat menentukan. Dekade inilah yang kelak akan ‘memproduksi’ orang-orang muda Indonesia di tahun 2020-2030.

Seperti kita tahu, piramida kependudukan kita memperlihatkan fenomena “bonus demografi”, sebuah keadaan dimana rasio ketergantungan populasi tidak produktif makin rendah, atau jumlah usia produktif (16-40 tahun) semakin bertambah. Sensus BPS 2010 menunjukkan, jumlah orang muda (16-30 tahun) mencapai 25,04% dari total penduduk Indonesia. Jumlah orang muda itu diperkirakan lebih dari 30% di tahun 2020-2030.

Kelompok muda di tahun 2020-2030 itu sekarang ini sedang berusia antara 6-20 tahun. Mereka inilah yang kelak menjadi kekuatan Bela Negara yang sangat dahsyat—jenius-jenius lokal, kata Umar Kayam—seiring dengan semakin cepatnya penguasaan mereka terhadap sains dan teknologi. Kekuatan Bela Negara yang dahsyat itu, jika hari ini kita kelola dengan baik, maka pada masanya akan mampu memproduksi ideas dan menduniakan nilai-nilai Indonesia. Sebaliknya, jikalau mereka kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya, maka kekuatan yang mereka miliki itu bakal mengancam kedaulatan bangsa dan negaranya sendiri karena pikiran mereka dirasuki oleh ideas dan nilai-nilai lain dari luar akar ke-Indonesia-an.

Inilah tanggungjawab generasi masa kini, terutama para elit yang hari ini sedang duduk di eksekutif, legislatif dan yudikatif (serta tentu saja media—bila merasa sebagai pilar demokrasi yang keempat). Penyuntikan nilai-nilai Bela Negara kepada generasi masa depan, khususnya bakal orang muda 2020-2030, mesti dilakoni secara terus menerus dan berfokus pada lima aspek peradaban; moral, sains, teknologi, seni dan ekonomi. Penguasaan sains dan teknologi dapat dicapai melalui pendidikan yang memadai. Seni dapat diajarkan dan dilatihkan. Ekonomi dapat dibangun dengan berbagai program. Tetapi moral… Pembangunan moral hanya dapat dilakukan dengan memberi teladan. Semoga Jaya Indonesiaku…!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers